Wednesday, November 20, 2019

Pengertian dan Kawasan Perkotaan Serta Tata Ruang Kota

Pengertian  dan Kawasan Perkotaan Serta Tata Ruang Kota

Wilayah perkotaan adalah
wilayah geografis yang didalam nya berisi banyak sekali orang yang mana wilayah tersebut relatif kecil. Perkotaan juga memiliki kepadatan penduduk yang relatif tinggi dibandingkan dengan kepadatan di daerah sekitarnya. 

Menurut E.W. Burgess (Yunus, 1999), atas dasar study kasusnya mengenai morfologi kota Chicago, menurutnya suatu kota yang besar mempunyai kecenderungan berkembang ke arah luar di semua bagian-bagiannya. Masing-masing zona tumbuh sedikit demi sedikit ke arah luar. Oleh karena semua bagian-bagiannya berkembang ke segala arah, maka pola keruangan yang dihasilkan akan berbentuk seperti lingkaran yang berlapis-lapis, dengan daerah pusat kegiatan sebagai intinya.

Secara berurutan, tata ruang kota yang ada pada suatu kota yang mengikuti suatu pola konsentris ini adalah sebagai berikut:

a. Daerah Pusat atau Kawasan Pusat Bisnis (KPB).


Daerah pusat kegiatan ini sering disebut sebagai pusat kota. Dalam daerah ini terdapat bangunan-bangunan utama untuk melakukan kegiatan baik sosial, ekonomi, poitik dan budaya. Contohnya : Daerah pertokoan, perkantoran, gedung kesenian, bank dan lainnya.

b. Daerah Peralihan.


Daerah ini kebanyakan di huni oleh golongan penduduk kurang mampu dalam kehidupan sosial-ekonominya. Penduduk ini sebagian besar terdiri dari pendatang-pendatang yang tidak stabil (musiman), terutama ditinjau dari tempat tinggalnya. Di beberapa tempat pada daerah ini terdapat kegiatan industri ringan, sebagai perluasan dari KPB.

c. Daerah Pabrik dan Perumahan Pekerja.


Daerah ini di huni oleh pekerja-pekerja pabrik yang ada di daerah ini. Kondisi perumahannya sedikit lebih buruk daripada daerah peralihan, hal ini disebabkan karena kebanyakan pekerja-pekerja yang tinggal di sini adalah dari golongan pekerja kelas rendah.

d. Daerah Perumahan yang Lebih Baik Kondisinya.


Daerah ini dihuni oleh penduduk yang lebih stabil keadaannya dibanding dengan penduduk yang menghuni daerah yang disebut sebelumnya, baik ditinjau dari pemukimannya maupun dari perekonomiannya.


e. Daerah Penglaju.


Daerah ini mempunyai tipe kehidupan yang dipengaruhi oleh pola hidup daerah pedesaan disekitarnya. Sebagian menunjukkan ciri-ciri kehidupan perkotaan dan sebagian yang lain menunjukkan ciri-ciri kehidupan pedesaan, Kebanyakan penduduknya mempunyai lapangan pekerjaan nonagraris dan merupakan pekerja-pekerja penglaju yang bekerja di dalam kota, sebagian penduduk yang lain adalah penduduk yang bekerja di bidang pertanian.

Menurut Spiro Kostof (1991), Kota adalah Leburan Dari bangunan dan penduduk, sedangkan bentuk kota pada awalnya adalah netral tetapi kemudian berubah sampai hal ini dipengaruhi dengan budaya yang tertentu. Bentuk kota ada dua macam yaitu geometri dan organik.Terdapat dikotomi bentuk perkotaan yang didasarkan pada bentuk geometri kota yaitu Planned dan Unplanned.

  • Bentuk Planned (terencana) dapat dijumpai pada kota-kota eropa abad pertengahan dengan pengaturan kota yang selalu regular dan rancangan bentuk geometrik. 
  • Bentuk Unplanned (tidak terencana) banyak terjadi pada kota-kota metropolitan, dimana satu segmen kota berkembang secara sepontan dengan bermacam-macam kepentingan yang saling mengisi, sehingga akhirnya kota akan memiliki bentuk semaunya yang kemudian disebut dengan organik pattern, bentuk kota organik tersebut secara spontan, tidak terencana dan memiliki pola yang tidak teratur dan non geometrik.

Penelitian Harga Komoditas Bawang Putih di Jawa Timur

PAPER | MAKALAH | JURNAL | SKRIPSI

Jurnal Penelitian Harga Komoditas Bawang Putih di Jawa Timur


PAPER | MAKALAH | JURNAL | SKRIPSI  Jurnal Penelitian Harga Komoditas Bawang Putih di Jawa Timur


BAB I
PENDAHULUAN 

Harga produk pertanian pada umumnya selalu berubah-ubah (tidak stabil) bila dibandingkan dengan dengan harga-harga bahan-bahan non pertanian. Begitu pula dengan harga bawang putih di Jawa Timur yang tidak stabil atau fluktuatif. Hal tersebut disebabkan kurva penawaran dan permintaan untuk hasil pertanian adalah inelastis dan adanya perubahan yang sulit diramalkan pada pasokan pertanian karena sangat tergantung kondisi alam, hama penyakit, dan berbagai faktor lainnya. Adapun faktor lain yang dapat mempengaruhi fluktuasi harga antara lain: 1) faktor musim tanam, 2) permintaan musiman, 3) karakteristik produk (dapat disimpan dalam jangka waktu panjang atau tidak), dan 4) fluktuasi harga pasar acuan. Fluktuasi harga yang terjadi ini dapat membentuk suatu pola atau perilaku harga antara lain trend, siklus dan musiman. 

Pada beberapa penelitian yang sebelumnya dilakukan, didapatkan bahwa harga akan jatuh pada musim panen raya dan meningkat pada musim paceklik. Dalam suatu pasar yang didominasi oleh produk impor fluktuasi harga tidak hanya dipengaruhi oleh fluktuasi musiman produk lokal yang sejenis, tetapi juga oleh pasar acuan seperti pasar dunia atau pasar negara asal produk impor sehingga pola harga yang terjadi tidak selalu sesuai dengan musim. Pada pasar bawang putih Jawa Timur, sebagian besar bawang putih yang beredar merupakan impor dari Cina. Yustika (2012) menyatakan bahwa tiap ketergantungan dalam jumlah besar terhadap pasokan impor komoditas dipastikan sulit menghadirkan stabilitas harga. Oleh sebab itu petani bawang putih di Jawa Timur serta para pelaku pasar kesulitan untuk memprediksi harga dan menentukan langkah. Disinilah diperlukan suatu peramalan harga bawang putih di pasar Jawa Timur untuk waktu yang akan datang, dengan menduga atau memperkirakan harga pada waktu yang akan datang sehingga dapat membantu dalam melakukan perencanaan dan pengambilan keputusan terutama bagi petani bawang putih. Muwanga dan Snyder dalam Adiyoga (2006) mengemukakan bahwa pasar-pasar terintegrasi jika terjadi aktivitas perdagangan antara dua atau lebih pasar-pasar yang terpisah secara spasial, kemudian harga di suatu pasar berhubungan atau berkorelasi dengan harga di pasar-pasar lainnya. 

Berdasarkan pemaparan di atas, penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan agar dapat mengetahui bagaimana penetapan harga untuk komoditas bawang putih, bagaimana pola pemasaran komoditas bawang putih ini serta bagaimana struktur pemasarannya. 

BAB II
PEMBAHASAN 

2.1 Bagaimana Cara Penetapan Harga Komoditas Bawang Putih 


Para pedagang sayuran yang ada di pasar karamenjangan memiliki cara penetapan harga yang tidak jauh beda antara pedagang yang satu dengan yang lain . Dari survei yang telah dilakukan oleh kelompok kami kepada lima pedagang sayuranki pasar karamenjangan, di peroleh data sebagai berikut. 

No
Nama Pedagang
Pertanyaan
Jawaban
1
Sumiyati
·                     Berapa harga beli komoditas bawang putih per kilogram
·                     Harga beli komoditas bawang putih per kilogram sekitar 27.000
·                     Dari mana Mendapatkan pasokan bawang putih untuk selanjutnya di jual kembali
·                     Komoditas bawang putih di peroleh pedagang dari pasar kaputran yang merupakan pasar utama dari petani yang dari desa
·                     Berapa harga Jual komoditas bawang putih per kilogram
·                     Harga beli komoditas bawang putih per kilogram sekitar 30.000
·                     Berapa keuntungan ibuk biasanya menjual bawang putih satu kilogram
·                     Keuntungannya biasanya antara tiga sampai lima ribu per kilogram.

No
Nama Pedagang
Pertanyaan
Jawaban
1
Ibu Kartini
·                     Berapa harga beli komoditas bawang putih per kilogram
·                     Harga beli komoditas bawang putih per kilogram sekitar 26.000 ribu
·                     Dari mana Mendapatkan pasokan bawang putih untuk selanjutnya di jual kembali
·                     Komoditas bawang putih di peroleh pedagang dari pasar pabean yang merupakan pasar utama dari petani yang dari desa
·                     Berapa harga Jual komoditas bawang putih per kilogram
·                     Harga beli komoditas bawang putih per kilogram sekitar 30.000
·                     Berapa keuntungan ibuk biasanya menjual bawang putih satu kilogram
·                     Keuntungannya biasanya antara tiga sampai lima ribu per kilogram.

No
Nama Pedagang
Pertanyaan
Jawaban
1
Marsiatun
·                     Berapa harga beli komoditas bawang putih per kilogram
·                     Harga beli komoditas bawang putih per kilogram sekitar 26.500
·                     Dari mana Mendapatkan pasokan bawang putih untuk selanjutnya di jual kembali
·                     Komoditas bawang putih di peroleh pedagang dari pasar kaputran yang merupakan pasar utama dari petani yang dari desa
·                     Berapa harga Jual komoditas bawang putih per kilogram
·                     Harga beli komoditas bawang putih per kilogram sekitar 30.000 ribu
·                     Berapa keuntungan ibuk biasanya menjual bawang putih satu kilogram
·                     Keuntungannya biasanya antara tiga sampai lima ribu per kilogram.

No
Nama Pedagang
Pertanyaan
Jawaban
1
Ibu Parni
·                     Berapa harga beli komoditas bawang putih per kilogram
·                     Harga beli komoditas bawang putih per kilogram sekitar 27.000 ribu
·                     Dari mana Mendapatkan pasokan bawang putih untuk selanjutnya di jual kembali
·                     Komoditas bawang putih di peroleh pedagang dari pasar kaputran yang merupakan pasar utama dari petani yang dari desa
·                     Berapa harga Jual komoditas bawang putih per kilogram
·                     Harga beli komoditas bawang putih per kilogram sekitar 30.000 ribu
·                     Berapa keuntungan ibuk biasanya menjual bawang putih satu kilogram
·                     Keuntungannya biasanya tiga ribu per kilogram.

No
Nama Pedagang
Pertanyaan
Jawaban
1
Ibu Jumilah
·                     Berapa harga beli komoditas bawang putih per kilogram
·                     Harga beli komoditas bawang putih per kilogram sekitar 27.000 ribu
·                     Dari mana Mendapatkan pasokan bawang putih untuk selanjutnya di jual kembali
·                     Komoditas bawang putih di peroleh pedagang dari pasar kaputran yang merupakan pasar utama dari petani yang dari desa
·                     Berapa harga Jual komoditas bawang putih per kilogram
·                     Harga beli komoditas bawang putih
1 kg = 30.000
½ kg = 16.000
¼ kg = 8.500
·                     Berapa keuntungan ibuk biasanya menjual bawang putih satu kilogram
·                     Keuntungannya biasanya antara tiga sampai lima ribu per kilogram.

Para pedagang rata-rata menetapkan harga sama. Hal ini disebabkan model pasar yang ada di karamenjangan merupakan price taker bukan price maker, sehingga harga sepenuhnya di serahkan di keadan pasar. 

2.2 Pola Pemasaran Komoditas Bawang Putih 


Berdasarkan hasil survei yang dilakukan diperoleh informasi bahwa rantai pemasaran atau pola distribusi pemasaran bawang putih di pasar karamenjangan atau pasar di surabaya melibatkan pedagang besar sebagai jalur awal setelah produsen. Dari pedagang besar tersebut, kemudian pasokan bawang putih sebagian besar dijual melalui pedagang pengecer dalam hal ini pedagang besar bertindak sebagai penyuplai bagi pedagang pengecer, kemudian antar sesama pedagang pengecer juga terjadi distribusi bawang putih dengan pola kerjasama. Bawang putih yang dipasarkan di pasar karamenjangan berasal dari daerah sentra produksi bawang putih di jawa timur yaitu Kabupaten magetan, pacitan dan malang. 

1. Produsen > Pedagang besar > Pengecer > Konsumen 

2. Produsen > Pedagang besar > Konsumen 

Pola distribusi Komoditas bawang putih di pasar karamenjangan atau kota Surabaya 

Perbedaan margin pemasaran yang diperoleh pelaku tataniaga di surabaya tepatnya di pasar karamenjangan disebabkan oleh karena adanya perbedaan harga jual dari petani ke pelaku tataniaga lainnya dan pengangkutan (jarak). Tinggi atau rendahnya margin tataniaga suatu produk dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pengangkutan, penyimpanan dan lain sebagainya. Sehingga terkadang harga yang ada di petani terpaut sangat jauh karena adanya rantai distribusi yang panjang. 

BAB III 
PENUTUP 

3.1 Kesimpulan 


1. Model pasar yang ada di karangmejangan adalah price taker, sehingga harga sepenuhnya diserahkan kepada keadaan pasar, inilah yang menyebabkan harga di semua pedagang sama. 

2. Rantai pemasaran atau pola distribusi pemasaran bawang putih di pasar karamenjangan atau pasar di surabaya melibatkan pedagang besar sebagai jalur awal setelah produsen.

3. Bawang putih yang dipasarkan di pasar karamenjangan berasal dari daerah sentra produksi bawang putih di jawa timur yaitu Kabupaten magetan, pacitan dan malang.

4. Perbedaan margin pemasaran yang diperoleh pelaku tataniaga di pasar karamenjangan disebabkan karena adanya perbedaan harga jual dari petani ke pelaku tataniaga lainnya dan pengangkutan (jarak).

3.2 Saran 


Tinggi atau rendahnya margin tataniaga suatu produk dapat dipengaruhi oleh faktor pengangkutan, penyimpanan dan lain sebagainya. Sehingga terkadang harga yang ada di petani terpaut sangat jauh karena adanya rantai distribusi yang panjang. Maka dari itu pemerintah supaya bisa lebih mengecilkan atau memperpendek rantai distribusi untuk meminimalisir jarak pada margin pemasaran.

Analisis Penanaman Modal Asing (PMA) Brasil 2010 - 2018

PAPER | MAKALAH | JURNAL | SKRIPSI

ANALISIS PENANAMAN MODAL ASING DI BRASIL MENGGUNAKAN REGRESI


Analisis Penanaman Modal Asing (PMA) Brasil


PENDAHULUAN

Brasil memiliki ekonomi terbesar kedelapan menurut nominal GDP di dunia, dan terbesar ketujug menurut purchasing power parity. Ekonomi Brasil dikarakterisasikan oleh ekonomi berorientasi ke dalam dan pasar bebas secara moderat.
Baca Juga : PMA Perancis
Ekonomi Brasil adalah yang terbesar di Amerika Latin dan terbesar kedua di hemisfer barat. Dari 2000 sampai 2012, Brazil menjadi salah satu dari ekonomi utama dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan rata-rata peringkat pertumbuhan GDP tahunan lebih dari 5%, dengan ekonominya pada 2012 yang menggeser Britania Raya, membuat ekonomi Brasil menjadi ekonomi terbesar keenam di dunia.

Pada 2012 Forbes menyatakan bahwa Brasil adalah negara dengan jumlah miliuner terbesar ke-5 di dunia, jumlah yang besar ketimbang jumlah yang ditemukan di negara-negara Amerika Latin lainnya, dan pernah di atas Britania Raya dan Jepang. Brazil adalah anggota organisasi ekonomi diverse, seperti Mercosur, Unasul, G8+5, G20, WTO, dan Cairns Group.

PEMBAHASAN

Penanaman Modal Asing Brazil 2010 - 2018
Tahun
milyar
%
FDI (Y)
GDP (X1)
CPI (X2)
Real Interest Rate (X3)
2010
82,39
2.209
0
29,116
2011
102,427
2.616
6,636
32,833
2012
92,568
2.465
12,399
26,582
2013
75,211
2.473
19,372
18,499
2014
87,714
2.456
26,927
22,404
2015
60,334
1.802
38,389
33,832
2016
73,378
1.796
50,483
40,702
2017
70,258
2.054
55,669
41,986
2018
88,324
1.869
61,37
34,999

SUMMARY OUTPUT
Regression Statistics
Multiple R
0,729846141
R Square
0,53267539
Adjusted R Square
0,252280624
Standard Error
11,13352759
Observations
9
ANOVA

df
SS
MS
F
Significance F
Regression
3
706,4469651
235,4823217
1,899733712
0,247577404
Residual
5
619,7771831
123,9554366
Total
8
1326,224148




Coefficients
Standard Error
t Stat
P-value
Lower 95%
Upper 95%
Intercept
-20,6507105
61,96232929
-0,33327847
0,752445568
-179,929949
138,6285276
GDP (X1)
0,037853735
0,020705587
1,828189469
0,127063269
-0,01537167
0,09107914
CPI (X2)
0,016127806
0,277630002
0,058091005
0,955926274
-0,69754283
0,729798446
Real Interest Rate (X3)
0,593882506
0,70628173
0,840857807
0,438777459
-1,22167248
2,409437492
Interpretasi :
Foreign Direct Investment (FDI) akan naik sebesar 1 euro jika GDP per kapita naik sebesar 0,037853735 dollar  dan inflasi yang dihitung berdasar consumer price index (CPI) naik sebesar 0,016127806 persen serta long term interest rate naik sebesar 0,593882506 persen dan mempunyai nilai error sebesar 11,13352759 diasumsikan secara rata-rata dan cateris paribus.
Sehingga persamaannya adalah:
Y= 0,037853735 GDP - 0,016127806 INF + 0,593882506 RIR  11,13352759  Ɛ
PENUTUP
Kesimpulan dari hasil analisis data diatas adalah bahwa Penanaman Modal Asing (PMA) yang dihitung berdasarkan FDI (Foreign Direct Investment) dapat dipengaruhi oleh determinan GDP per Capita, Inflasi yang dihitung berdasarkan CPI (Consumer Price Index), dan tingkat suku bunga.

Dalam hal ini FDI berkorelasi positif dengan GDP per Capita, CPI (Consumer Price Index) dan Interest Rate (suku bunga).