Friday, July 24, 2020

Analisis Perilaku dan Kinerja PT Bank Mandiri Tbk. Setelah Terjadinya Merger

PENDAHULUAN 

Ketatnya persaingan di sektor perbankan, mengharuskan bank untuk menerapkan strategi yang tepat maupun melakukan inovasi untuk meningkatkan kapabilitas perbankan. Dengan adanya merger bank diharapkan akan dapat meningkatkan efisiensi kerja melalui pengurangan berbagai aktifitas yang sama yang ada dalam bank. 

Analisis Perilaku dan Kinerja PT Bank Mandiri Tbk. Setelah Terjadinya Merger

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku dan kinerja keuangan PT. Bank Mandiri Tbk setelah melakukan merger. 

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997 membuat potensi ekonomi dalam negeri mengalami ambang kebangkrutan. Yang mana pada akhirnya pinjaman luar negeri membengkak hingga lebih dari tiga kali lipat karena melemahnya kurs mata uang rupiah secara drastic terhadap dollar. Akhirnya pemerintah Indonesia memutuskan untuk merestrukturisasi perbankan dengan cara penggabungan (merger) dan rekapitalisasi melalui penerbitan obligasi. 

PEMBAHASAN 

Analisis Perilaku dan Kinerja PT Bank Mandiri Setelah Merger 

Pada 2 Oktober1998 dilakukan pengabungan beberapa bank pemerintah yaitu; Bank Ekspor Impor (Bank Exim), Bank Bumi Daya (BBD), Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo), dan Bank Dagang Negara (BDN). Penggabungan keempat bank ini menghasilkan bank baru menjadi Bank Mandiri. 

Pada akhir juli 1999 baru dilakukan penggabungan laporan keuangan efektif sekaligus melakukan pengurangan kantor cabang dan SDM yang ada pada empat bank sebelumnya. Dengan penggabungan keempat bank tersebut, pemerintah berharap: 

1. Industri perbankan Indonesia akan menjadi lebih kuat dan stabil apabila ditopang oleh bank-bank berskala besar, 

2. Intervensi pemerintah terhadap bank pemerintah semakin berkurang, apabila restrukturisasi perbankan berhasil maka besar kemungkinan Bank Mandiri akan diprivatisasi dengan tujuan memperkuat struktur permodalan, meningkatkan likuiditas dan pengembangan usaha 

3. Kinerja keuangan Bank Mandiri diharapkan semakin baik dibandingkan sebelum penggabungan. 

4. Semakin sehatnya Bank Mandiri, maka sektor riil yang membutuhkan jasa keuangan bank tersebut akan semakin baik dan secara makro perekonomian nasional semakin membaik di masa yang akan datang. 

Setelah keempat bank tersebut melakukan merger, pemerintah menyuntikan dana kepada Bank Mandiri untuk memperkuat struktur permodalan dan dapat memnuhi rasio kecukupan modal (CAR) dalam bentuk obligasi pemerintah sebesar Rp 178 trilyun. Pada bulan juli 2000 Bank Mandiri mengembalikan dana kepada pemerintah sebesar Rp 2,657 trilyun. Jadi total obligasi pemerintah saat itu menjadi Rp 175,343 trilyun. 

Pada tahun 1999 modal dan aktiva yang dimiliki Bank Mandiri mengalami peningkatan positif sebesar Rp8,875 trilyun dan Rp225,945 trilyun setelah pemerintah menginjeksi dengan obligasi pemerintah. Namun, laba setelah pajak yang diperoleh masih mengalami defisit sebesar Rp67,796 trilyun. Disamping itu, utang Bank Mandiri meningkat sebesar Rp14,591 trilyun dibandingkan sebelum merger. Biaya operasional lainnya yang dikeluarkan oleh Bank Mandiri sangat besar yaitu Rp12,296 trilyun yang sebagian besar disebabkan adanya pengurangan pegawai. 

Pada tahun 2000, kinerja keuangan Bank Mandiri semakin membaik dengan berbagai peningkatan seperti modal dan laba setelah pajak.Namun, keuntungan yang dimiliki merupakan pemberian subsidi dari pemerintah hasil bunga obligasi yang diberikan. Apabila pendapatan yang berasal dari bunga obligasi dikeluarkan, maka Bank Mandiri mengalami kerugian yang sangat besar sejak dilakukannya merger. Disamping itu, Bank Mandiri dapat memberikan dividen sebesar Rp1,011 trilyun kepada pemerintah. Kinerja keuangan Bank Mandiri pada tahun 2001 juga mengalami peningkatan pada laba dan pendapatan. Namun, modal yang dimiliki justru berkurang sebesar Rp3,845 trilyun. Hal ini disebabkan adanya kerugian yang belum direalisasi atas surat berharga dan obligasi pemerintah. Dari tahun 1998 sampai saat ini Bank Mandiri semakin berkembang pesat dan bahkan termasuk salah satu Bank terbesar di Indonesia. 

KESIMPULAN 

Kesimpulan Dari hasil analisis terhadap perilaku dan kinerja Bank setelah merger adalah sebagai berikut

1. Merger yang dilakukan pemerintah terhadap empat bank tidak sehat merupakan pilihan terakhir dibandingkan penutupan (likuidasi) bank-bank BUMN. Tujuan merger ini tidak lain menghindari pengeluaran negara yang lebih besar lagi untuk membayar uang para deposan, mencegah terjadinya domino effect seiring krisis ekonomi yang berlangsung dan bertambahnya jumlah pengangguran. 

2. Tahun 2001 70% pendapatan Bank Mandiri berasal dari pendapatan bunga obligasi pemerintah, justru pendapatan bunga dari pemberian kredit hanya sebesar 18% untuk tahun. Dengan demikian, kinerja bank selama tiga tahun ini (1999-2001) tidak lebih baik dibandingkan sebelum merger. 

3. Merger tidak selalu menciptakan efisiensi, walaupun peningkatan total aktiva dapat mencapai skala ekonomis, belum cukup untuk menciptakan efisiensi Bank Mandiri. Beberapa aspek yang mempengaruhi efisiensi Bank Mandiri terlihat dari aktiva, modal, utang jangka pendek, utang jangka panjang dan jumlah SDM. Sementara itu, Bank Mandiri hanya diposisi keempat apabila dilihat efisiensi relatif diantara bank-bank pemerintah saat ini.

Analisis (SCP) Structure Conduct Performance Industri Otomotif Mobil di Indonesia

PENDAHULUAN 

1.1 Latar Belakang

Dalam beberapa tahun terakhir, industri otomotif nasional menunjukkan perkembangan yang terbilang atraktif. Ini merupakan bagian dari imbas positif pertumbuhan jumlah kelas menengah Indonesia selama satu dasawarsa terakhir. 

Analisis (SCP) Structure Conduct Performance Industri Otomotif Mobil di Indonesia

Pesatnya perkembangan industri otomotif Indonesia dapat membawa dampak yang cukup luas, tidak hanya bertumbuhnya industri komponen tetapi dapat membuka lapangan kerja dan jasa terkait. Perkembangan industri ini yang sejalan dengan trend penjualan otomotif dunia membuka peluang besar bagi industri otomotif untuk terus berkembang. 

Bank Dunia menyebut, jumlah kelas menengah pada 2002 hanya mencapai tujuh persen dari total penduduk Indonesia. Jumlah itu melonjak signifikan pada 2017 menjadi 22 persen. Pada 2018 Bank Dunia melaporkan jumlah kelas menengah Indonesia menembus 30 persen. 

Sementara itu, terdapat 120 juta penduduk lainnya tergolong sebagai aspiring middle class atau kelas menengah harapan. Mereka ini adalah kelompok yang tak lagi miskin dan sedang beranjak menuju ke kondisi ekonomi yang lebih mapan. Bank Dunia memprediksikan jumlah kelas menengah Indonesia pada 2050 nanti akan mencapai 143 juta orang atau lebih dari 50 persen dari total julah penduduk. 

Merujuk pada kriteria Bank Dunia, kelas menengah adalah kelompok masyarakat dengan pengeluaran per hari antara 2 sampai 20 dolar Amerika Serikat (AS). Keberadaan kelas menengah dianggap penting dalam pertumbuhan ekonomi lantaran merupakan elemen utama penggerak roda produksi dan konsumsi. 

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok kelas menengah menyumbang setidaknya 45 persen dari total konsumsi domestik. Selain penghasilan yang nisbi tinggi, kelas menengah juga dicirikan dengan perilaku konsumsinya yang cenderung berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sekunder, bahkan tersier. 

Salah satunya ialah kebutuhan atas kepemilikan kendaraan pribadi, baik sepeda motor atau mobil. Menjadi wajar jika angka penjualan kendaraan bermotor di Indonesia mengalami lonjakan drastis dalam beberapa tahun terakhir. Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menyebut, sepanjang 2019 tercatat 1.100.950 unit sepeda motor terjual, naik 19,4 persen dari 2018 (922.123 unit). 

Tren positif juga terjadi pada penjualan mobil. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat 851.430 unit mobil terjual pada 2018, naik 10,85 persen dibanding 2017 (786.120 unit). Di situ segmen mobil yang diproduksi di Indonesia melalui kebijakan pemerintah “Low Cost Green Car” (LCGC) menyumbang 13,52 persen dari total penjualan. 

Penelitian ini menganalisis struktur, perilaku, kinerja, dan faktor yang mempengaruhi Price Cost Margin (PCM) industri otomotif di Indonesia tahun 1983-2013. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan Structure Conduct Performance (SCP) dengan data panel untuk menganalisis hubungan struktur dan kinerja. 

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam artikel ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana struktur pasar Industri otomotif di Indonesia?
2. Bagaimana prilaku perusahaan otomotif di Indonesia?
3. Bagaimana kinerja perusahaan otomotif di Indonesia?


1.3 Tujuan Makalah

1. Menganalisis struktur pasar yang terjadi pada industri otomotif di Indonesia
2. Menganalisis perilaku perusahaan yang berada dalam industri ontomotif di Indonesia.
3. Mengukur kinerja industri otomotif di Indonesia.

TINJAUAN PUSTAKA 

SCP 

Ekonomi industri menelaah struktur pasar dan perusahaaan yang secara relatif lebih menekankan pada studi empiris dari faktor-faktor yang mempengaruhi struktur pasar, perilaku dan kinerja pasar. Dasar paradigma SCP dicetuskan oleh Edward S. Mason, seorang dosen di University of Harvard tahun 1939, mengemukakan bahwa struktur (structure) suatu industri akan menentukan bagaimana para pelaku industri berperilaku (conduct) yang pada akhirnya menentukan keragaan atau kinerja 

Analisis (SCP) Structure Conduct Performance Industri Otomotif Mobil di Indonesia

Struktur Industri

Menurut Greer (dalam Sunengcih, 2009), struktur pasar didefinisikan sebagai jumlah penjual dan pembeli serta besarnya pangsa pasar (market share) yang ditentukan oleh adanya diferensiasi produk, serta dipengaruhi oleh keluar masuknya pendatang atau pesaing. Untuk mengukur struktur pasar dapat digunakan beberapa ukuran yaitu rasio konsentrasi dan Minimum Efficiency of Scale (MES). 

Perilaku Industri 

Perilaku industri menurut Kuncoro (2007), diartikan sebagai pola tanggapan dan penyesuaian berbagai perusahaan dalam suatu industri untuk mencapai tujuannya dan menghadapi persaingan. Perilaku dapat terlihat dalam bagaimana perusahaan menentukan harga jual, promosi produk, atau periklanan (advertising), koordinasi kegiatan dalam pasar (misalnya dengan berkolusi, kartel, dan sebagainya), serta litbang (research and development). 

PEMBAHASAN 

1. Analisis Struktur Industri 

Strukur industri diukur dari rasio konsentrasi (CR4) dan minimum efficiency of scale (MES). Dengan rumus sebagai berikut: 

Analisis (SCP) Structure Conduct Performance Industri Otomotif Mobil di Indonesia

Dimana:
CR4it = konsentrasi industri dari empat perusahaan terbesar pada unit industri ke-i dan tahun ke-t (%)
MESit = skala efisiensi minimum pada unit industri ke-i dan tahun ke-t (%)

Data Sampel Wholesales Otomotif Mobil Tahun 2017 - 2019

NO.

Tahun

BRAND

 

TOYOTA

DAIHATSU

HONDA

MITSUBISHI MOTORS

SUZUKI

Total

1

2019

331,797

177,284

137,339

119,011

100,383

1,030,126

Share

32.2%

17.2%

13.3%

11.6%

9.7%

 

2

2018

352,161

202,738

162,163

142,861

118,014

1,151,308

Share

30.6%

17.6%

14.1%

12.4%

10.3%

 

3

2017

371,332

186,381

186,859

79,807

111,66

1,077,364

Share

34.5%

17.3%

17.3%

7.4%

10.4%

 

Dari data di atas dapat disimpulkan:
a. Pada tahun 2019 : CR4 industri otomotif terbesar = 74,30%
b. Concentration rasio 4 perusahaan > 60, menunjukan struktur pasar pada industri otomotif mobil adalah oligopli ketat (Stigler)
c. Pada tahun 2019 pangsa pasar industry otomotif dikuasai oleh Toyota 32,20%, Daihatsu 17,20%, Honda 13,3% dan Mitsubishi 11,60%.

2. Analisis Perilaku Industri 

Perilaku industri dianalisis secara deskriptif dengan tujuan untuk memperoleh informasi mengenai perilaku perusahaan dalam suatu industri. Analisis ini dilakukan karena variabel yang mencerminkan perilaku sifatnya kualitatif yang sulit dikuantitatifkan. 

3. Analisis Kinerja Industri

Kinerja industri dianalisis dari price cost margin (PCM), efisiensi, dan pertumbuhan output dengan rumus sebagai berikut:

Analisis (SCP) Structure Conduct Performance Industri Otomotif Mobil di Indonesia

Dimana:
PCMit = rasio keuntungan industri pada unit industri ke-i dan tahun ke-t (%)
XEFit = efisiensi pada unit industri ke-i dan tahun ke-t (%)
Growthit = pertumbuhan nilai output pada unit industri ke-i dan tahun ke-t (%)